Welcome to my blog, hope you enjoy reading :)
RSS

Selasa, 03 Mei 2011

UJIAN YANG MEMBAHAGIAKAN

Ujian adalah bagian dari pembelajaran, yaitu proses pengembangan dan pemberdayaan diri yang mesti dialami dengan martabat. Orang punya beragam sikap dan cara menghadapi peristiwa ujian. Kebanyakan dengan rasa tegang dan takut. Saat ujian sering membuat orang emosional hingga banyak yang tak mampu menguasai diri. Efek psikosomatis, seperti sakit perut, pusing-pusing, atau mual, pun muncul. Memang itu hal yang manusiawi, tapi akibatnya konsentrasi buyar. Daya nalar saat mempersiapkan ujian terganggu. Persiapan ujian menjadi kacau. Hal yang sama terjadi saat menjalani ujian.
Dinamika kondisi emosi dan nalar inilah yang sering kali mewarnai peristiwa ujian. Tak heran kalau setiap ada peristiwa ujian kita menemukan banyak fakta yang mengejutkan. Siswa yang sehari-hari berprestasi justru hasilnya tidak memuaskan. Bahkan gagal. Namun, kegagalan ujian bukan hanya karena gugup, bingung, takut, atau tegang.beberapa siswa gagal mencapai hasil optimal justru karena meremehkan atau kurang cermat. Dengan demikian, perlu sikap bijak memahami suatu hasil ujian.
Ujian yang membahagiakan membutuhkan guru atau dosen berkarakter pembelajar yang sadar dan butuh terus belajar. Sebab, kegagalan pemahaman materi tak selalu disebabkan kelemahan peserta didik. Sering kali permasalahan justru pada para pendidiknya. Sesungguhnya peserta didik adalah mitra, bahkan anugerah yang menuntun para pendidik untuk terus-menerus belajar.
Konon negeri ini butuh banyak guru dan dosen seperti itu, rasanya itulah guru sejati. Ia akan terus membakar semangat belajar dan membangun komunitas pembelajar. Maka, hasilnya adalah ujian yang menjadi peristiwa membahagiakan dan dirinddukan, sekaligus mencerahkan baik anak didik maupun pendidiknya.

BERHENTILAH SEKOLAH SEBELUM TERLAMBAT

Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industry dan membentuk mentalitas pegawai katakanlah hingga dua decade ke depan yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur. Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur. Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA.
Jadi, untuk apa sebenarnya generasi bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi? Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD. Pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang. Jika sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu untuk apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi?
Faktanya sekarang semakin tinggi pendidikan juga ternyata tidak menjamin mudah mendapat pekerjaan . yang diperlukan sekarang adalah menggali kreativitas dan imajinasi. Dua hal yang susuah dimiiliki begitu saja, pendidikan sekolah sampai perguruan tinggi memang penting tapi ada kadangnya kita bisa mendapat ilmu pengetahuan di luar. Kini ilmu pengetahuan sudah tesedia secara digital, bisa lewat internet di computer, warnet , maupun telpon genggam. Hanya bagaimana kita mengembangkannya dengan imajinasi dan kreativitas hingga bisa menciptakan sesuatu yang tidak hanya berguna untuk diri sendiri tapi juga untuk orang banyak.
Jadi, cukup berikan kemampuan menggunakan kompuer, mencari sumber informasi yang dibutuhkan di internet, dan bahasa inggris secukupnya karena di dunia maya tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan. Anak-anak cukup sekolah 12 tahun saja. Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada.
Sumber : opini@kompas.com

MEMBENAHI PASAR TRADISIONAL

Pasar tradisional? Pasti sudah tau bagaimana kondisinya, becek, kotor, dan sesak karena tempat yang tidak tertata. Berdasarkan data Kementrian Perdagangan, dari sekitar 14.000 pasar tradisional yang sudah terdata, sekitar 95 persen kondisinya tidak layak. Pasar-pasar tersebut harus direvitalisasi agar tetap eksis, di tengah masifnya ekspansi pasar modern. Pasar tradisional yang sudah tidak layak rata-rata usianya sudah di atas 20 tahun.
Revitalisasi menjadi kebutuhan mendesak, tetapi harus diingat bukan hanya merehabilitasi fisiknya. Harus dilakukan secara menyeluruh dan harus mampu menjadikan pasar tradisional sebagai ikon perekonomian bangsa, indicator denyut ekonomi suatu daerah, serta identitas social ekonomi masyarakat setempat. Untuk mewujudkannya, revitalisasi harus memerhatikan beberapa aspek. Tata kelola pasar tradisional yang burruk akan menghambat revitalisasi karena membuat bangunan fisik yang sudah megah justru menjadi mandul. Pengelolaan tak hanya menyangkut perawatan, tetapi juga persoalan sampah, distribusi, dan retribusi.
Jika aspek-aspek tersebut terpenuhi, pasti akan sangat nyaman berada di pasar tradisonal. Tidak perlu lagi dikotomi pasar tradisional dan pasar modern. Yang ada hanyalah segmentasi produk. Pasar tradisional lebih unggul dalam penyediaan barang hasil bumi, seperti sayuran dan bahan kebutuhan pokok lainnya. Sebaliknya, barang pabrikan seperti susu, minuman, dan baju ada di pasar modern.

PUDARNYA SEMANGAT JUANG BUNG KARNO

Pada 14 Januari 1934-18 Oktober 1938 Bung Karno diasingkan dan menjalani masa pembuangan bersama keluarganya di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ende dijadikan tempat pembuangan Bung Karno karena ketika itu dianggap sebagai tempat terpencil dan jauh dari Ibukota. Pada masa pembuangannya Bung Karno menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat disekitarnya, sambil mengobarkan semangat juang melawan penjajahan Belanda.
Bung Karno suka mementaskan scenario karya-karyanya yang mengandungg pesan, semangat juang bangsa Indonesia untuk melawan penjajahan Belanda. Selain itu, di Ende pula Bung Karno menemukan butir-butir Pancasila yang kemudian menjadi dasar Negara kita. Sayangnya sekarang semangat itu tidak menular pada kaum remaja, maupun rakyat Indonesia. Mungkin karena kita tidak merasakan perjuangan yang berat menghadapi para penjajah. Tapi itu harusnya tidak menjadi alasan untuk kita menjunjung tinggi semangat juang Bung Karno. Selalu berusaha menjadi seseorang yang berguna untuk bangsa ini dan selalu ingat akan jasa para pahlawannya merupakan salah satu cara untuk menjaga semangat juang itu.
Andai para pemimpin ini seperti Bung Karno yang selalu dekat dengan rakyatnya dan selalu berjuang tanpa menyerah demi kejayaan Indonesia dan kesejahteraan rakyatnya dengan hati tulus, mungkin negeri ini akan lebih baik dari sekarang. Di tengah caruk-maruk kehidupan negeri ini yang semakin gila ingin rasanya merasakan kehidupan di jaman Bung Karno yang mungkin sulit tapi indah karena masih adanya sikap saling menghargai dan peduli di antara masyarakat.

GEDUNG MEWAH DI ATAS PENDERITAAN RAKYAT

Kontroversi pembangunan gedung baru DPR memasuki babak baru, ketika Presiden meminta pembangunab gedung itu ditunda dulu tapi pada hari yang sama pada rapat konsultasi pimpinan DPR memutuskan tetap melanjutkan pembangunan gedung baru meski menuai kecaman masyarakat. Gedung berlantai 36 dengan biaya hamper Rp 1,2 triliun membuat masyarakat mempertanyakan efektivitas rencana pembangunan itu. Biaya pembangunanlah yang paling controversial. Saat pertama diajukan, biaya adalah 1,8 triliun. Bahkan, ada usulan dari konsultan desain menggunakan kolam penampungan air untuk pemadaman kebakaran menjadi kolam renang berikut spa. Dalam perjalanan waktu, biaya terus turun, kini jadi Rp 1,138 triliun.
Harus dengan cara apalagi agar para wakil rakyat itu mengerti akan keinginan rakyat, fasilitas mewah apalagi yang kurang mereka dapat sampai harus membangun istana dengan menghabiskan uang rakyat tentunya. Bisa di maklumi bila hasil kerja mereka terlihat, tapi apa yang terlihat? Justru tindakan-tindakan memalukan yang tidak berguna yang selalau rakyat lihat.
Untuk apa gedung mewah dengan desain sangat mengagumkan yang dengan susah payah di rencanakan tapi hanya untuk tidur nyenyak mendengarkan ketuanya mendongeng. Kalau begitu tanam saja pohon beringin yang banyak untuk tempat mereka tidur, pasti akan lebih nyenyak dan menguntungkan juga untuk melawan pemanasan global.
Untuk apa menambah kolam renang dan tempat spa segala, yang ada malah akan jadi tempat tante-tante untuk bergosip ria sambil spa. Mungkin pekerjaan mereka memang banyak, tapi mereka juga mempunyai beberapa asisten yang pastinya akan lebih banyak kerjanya. Cukup ruangan yang disesuaikan luasnya dengan pendingin ruangan, alat-alat yang mendukung dan suasana yang nyaman bukan istana megah. Mereka selalu berpura-pura tidak melihat apa yang terjadi pada rakyat, kemiskinan, pengangguran, biaya sekolah dan rumah sakit yang mahal. Berjanji manis akan menyampaikan suara rakyat nyatanya hanya bersenang-senang di atas penderitaan rakyat.
Memang tidak semua seperti itu tapi hanya sedikit yang benar-benar memiliki niat tulus untuk menjadi wakil rakyat seutuhnya. Lebih banyak mereka yang tidak mau melewatkan kesempatan untuk mendapatkan gaji dan tunjangan yang pasti membuat semua orang yang membutuhkan uang di jaman sekarang untuk tidak menolak.

Minggu, 03 April 2011

HEMAT AIR DAN LISTRIK

Menghemat tagihan listrik dan air tak hanya mengurangi pengeluaran rutin bulanan tapi juga menekan pemanasan global. Hemat listrik berarti menggunakan peralatan listrik seperlunya dan mematikannya saat tak diperlukan. Cobalah untuk membiasakan diri mematikan lampu saat tidak digunakan dan juga lampu diruang kosong. Saat siang hari bukalah gorden dan jendela untuk membiarkan cahaya matahari masuk menerangi ruangan. Jendela terbuka juga baik untuk sirkulasi udara sehingga tidak perlu menyalakan AC.
Matikan pula televise jika tidak ditonton. Semua peralatan listrik yag masih dalam mode standby akan terus menerus menggunakan listrik. Bagi ibu rumah tangga untuk maksimalkan pekerjaan yang menggunakan listrik pada siang hari. Sebab tariff listrik pada siang hari lebih mahal. Dan untuk menghemat air banyak cara yang bisa dilakukan, mandi secukupnya tak perlu berlama-lama. Mandi selama 5 menit jauh lebih hemat dibanding menggunakan bathtub yang bisa sampai 60 liter air. Kalau sikat gigi, usahakan keran dalam kondisi tertutup. Sebab, jika kita membiarkan keran terbuka selama 1 menit itu sama dengan membuang 1 galon air bersih sehari.
Untuk menjaga ketersediaan air tanah, buatlah lubang biopori. Mudah saja, buat lubang dengan diameter 10cm lalu isi dengan sampah organik. Bila turun hujan, lubang ini akan terisi air lantas air akan meresap ke dalam tanah dan diikat sebagai sumber air tanah yang nantinya akan kita butuhkan.

MORAL, MENTALITAS, DAN KETANGGUHAN JEPANG

Mari kita berkaca dan belajar tentang moral, mentalitas, dan ketangguhan rakyat Jepang pascatsunami, kita bisa dapatkan fakta-fakta setelah bencana besar itu meluluhlantahkan sebagian wilayahnya. Bahan bakar minyak terbatas, tetapi masyarakatnya antre dengan kesabaran disetiap pom bensin. Antrean mobil terlihat rapi tanpa berjejalan. Bahan makanan menipis, tetapi tidak ada spekulan yang menumpuk stok. Tidak ada pedagang yang melambungkan harga demi keuntungan pribadi. Harga makanan justru dipermurah.
Supermarket diserbu, tetapi tidak ada yang protes penjatahan pembelian makanan. Warga antre dengan tenang meskipun panjang antrean mencapai puluhan kilometer. Tidak ada aksi kriminalitas seperti perampokan dan penjarahan. Tidak ada protes dan saling menyalahkan antara rakyat dan pemerintahnya. Pada krisis nuklir di Fukushima, muncul kepatuhan yang luar biasa. Ketika warga yang berada pada radius 30km dilarang keluar rumah, semuanya patuh. Ketika harus menjalani tes radioaktif, semua ikut.
Apa yang membuat Jepang sedemikian hebat bukan hanya karena disiplin dan etos kerja di atas rata-rata. Jepang adalah Negara dengan kepatuhan sipil luar biasa. Kepatuhan ini tidak datang karena ancaman hukuman yang tegas, tetapi karena norma social yang lama telah dianut. Jepang tidak pernah melihat bencana sebagai kesempatan untuk mengeruk keuntungan, bencana adalah persoalan yang harus ditangani bersama. Semua bahu membahu mengatasi problem yang tersisa.
Ini bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk bangsa kita, dimana pemerintah dapat dengan sigap menangani musibah dan sangat memperhatikan rakyatnya. Dan rakyat dengan disiplin mengikuti semua peraturan karena mereka percaya akan apa yang dilakukan oleh pemerintahnya dapat membantu mereka melalaui musibah ini. Praktek dan bukti nyata yang pemerintah Jepang hasilakan bukan omong kosong dan saling lempar tanggung jawab beserta kesalahan yang diterima rakyat. Carilah akar masalahnya bukan malah memikirkan cara membuang masalah.